• Kamis, 9 Februari 2023

Kumpulan Contoh Ceramah yang Cocok Untuk Perlombaan Hari Santri Nasional 2022

- Jumat, 30 September 2022 | 05:05 WIB
Kumpulan Contoh Ceramah yang Cocok Untuk Perlombaan Hari Santri Nasional 2022
Kumpulan Contoh Ceramah yang Cocok Untuk Perlombaan Hari Santri Nasional 2022
MUDA BAHAGIA - Berikut adalah Kumpulan contoh ceramah untuk perlombaan Hari Santri Nasional 2022 cocok untuk dijadikan referensi. 
 
Hari Santri Nasional 2022 biasanya diperingati pada tanggal 22 Oktober, mengingat Hari Santri Nasional ini telah ditetapkan sebagai hadiah kepada para santri oleh Presiden Joko Widodo pada 2015 lalu.
 
Melihat dari sejarahnya, hari santri tidak bisa dilepaskan dengan perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia. Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari memimpin rumusan "Resolusi Jihad" di kalangan kiai pesantren.
 
Resolusi Jihad tersebut adalah untuk membela tanah air dari Penjajahan pada saat itu. Bahwasannya membela tanah air dan mencintai tanah air matinya dalam keadaan syahid.
Biasanya dalam memperingati Hari Santri Nasional suka diadakan beberapa perlombaan yang berbasis pesantren salah satunya, Baca Kitab, Ceramah, Baca Al-quran dan lain sebagainya.
 
 
Dalam Artikel ini akan memberikan beberapa contoh ceramah yang cocok untuk menjadi bahan perlombaan di Hari Santri Nasional 2022.
 
Ceramah 1 dengan Tema: Syarat Diterima Amal
Ceramah 2 dengan Tema: Bagaimana Mencintai Allah dan Rasulnya
Ceramah 3 dengan Tema: Jangan Berputus Asa
Ceramah 4 dengan Tema: Jangan Menunda Taubat
 
Untuk lebih lengkapnya simak contoh ceramah dibawah ini.

1. Ceramah Ke 1
Syarat Diterima Amal


وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ  

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ayat yang telah kita dengar tadi terdapat dalam Al-Qur'an juz 30, tepatnya pada surat al-Bayyinah ayat ke-5. Ayat tersebut menegaskan tentang pentingnya ikhlas dalam segala amalan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (Majmu' Fatawa, 10/49) berkata, "Mengikhlaskan agama untuk Allah adalah pokok ajaran agama ini yang Allah tidak menerima selainnya. Dengan ajaran agama inilah Allah mengutus rasul yang pertama sampai rasul yang akhir, yang karenanya Allah menurunkan seluruh kitab. Ikhlas dalam agama merupakan perkara yang disepakati oleh para imam ahli iman. Ia merupakan inti dari dakwah para nabi dan poros Al-Qur'an."

Memurnikan segala ibadah semata-mata karena Allah adalah merupakan salah satu syarat diterimanya suatu amalan. Pemurnian ibadah tersebut terlihat dari niat seseorang ketika menjalankan sebuah ibadah. Termasuk dalam makna ibadah adalah segala aktivitas yang dimaksudkan untuk mencari pahala di sisi Allah. Rasulullah bersabda, "Amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Dan setiap orang hanyalah mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam Tafsir ats-Tsa'labi (al-Kasyfu wal-Bayân: 9/356), disebutkan bahwa Qadhi Fudhail bin 'lyâdh ketika mengomentari firman Allah,

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya", beliau mengatakan, "Yang dimaksud "lebih baik amalnya" adalah yang paling ikhlas dan paling benar." Beliau juga mengatakan, "Sesungguhnya suatu amalan jika dilakukan dengan ikhlas, namun tidak benar, maka akan tertolak. Jika dilakukan dengan benar namun tidak ikhlas, juga akan tertolak. Ikhlas jika dilakukan hanya karena Allah dan benar jika dilakukan sesuai ajaran Rasulullah

Para jamaah rahimakumullâh,

Kita semua tentu masih ingat sebuah hadis sahih (HR. Muslim) yang menerangkan tiga orang yang nantinya akan masuk pertama kali ke dalam neraka, yang diseret dengan muka tertelungkup, kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Mereka adalah para mujahid yang mencari tanda jasa, orang alim ahli Al Qur'an yang mencari popularitas, dan dermawan yang mencari ketenaran.

Oleh karena itu,para salaf mengajari kita untuk melontarkan dua pertanyaan kepada diri sendiri sebelum mengerjakan sesuatu. Pertama, mengapa, artinya kenapa kita mengerjakan hal tersebut, apa tujuannya? Kedua, bagaimana, artinya bagaimana cara kita melaksanakannya? Sudahkah sesuai dengan sunnah Rasulullah? Dua pertanyaan inilah yang seharusnya selalu kita hadirkan dalam setiap pekerjaan kita sehingga ia tidak sia-sia, sebagaimana Allah firmankan, "Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan." (al-Furqân: 23).

Di antara tanda-tanda orang yang tidak ikhlas menurut Imam Ali karramallâhu wajhah adalah malas beramal ketika sendirian, giat beramal ketika sedang banyak orang, dan terakhir menambah amalnya ketika dipuji dan menguranginya ketika dicela. Oleh karena itu, sudah seharusnya dalam beramal kita hanya mencari ridho Allah, bukan kepentingan duniawi. Sama antara ketika dipuji atau dicela. Tidak pernah sedikit pun kita merasa telah sempurna dalam menjalankan tugas sebagai hamba Allah. Hâtim al-A'sham adalah salah satu ulama salaf yang sangat terkenal dengan kekhusyukan shalatnya. Namun setiap ia habis shalat, ia mempertanyakan shalatnya. la berkata, "Aku tidak tahu apakah shalatku diterima atau tidak?"


بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، وهدانا وإياكم إلى صراط مستقيم وتقنيي و إنا كم بالآيات والذكر الحكيم
 
Baca Juga: Lima Link Twibbon Hari Santri dengan Tampilan Keren, Cocok Dijadikan Foto Profil Media Sosial pada 22 Oktober

2. Ceramah Ke 2
Bagaimana Mencintai Allah dan Rasulnya


قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ .

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ ۚ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ

Katakanlah (Muhammad), “Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”
(Qs Al-Imran Ayat 31 dan 32)

Kaum Muslimin rahimakumullah,

Ayat yang baru kita dengar tadi, terdapat dalam Al-Qur'an juz ke-3, tepatnya pada surat Ali Imran ayat ke-32. Ayat tersebut menegaskan tentang pentingnya kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya kecintaan kepada Allah dan Rasul Nya adalah diatas segala-galanya. Karena kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah salah satu landasan keimanan yang sangat mendasar. Bahkan menjadi salah satu ciri orang yang telah merasakan manisnya keimanan. Sebagaimana Rasulullah sabdakan,

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان من كان الله ورسوله أحب إليه مما سواهما (رواه البخاري ومسلم وهذا لفظ مسلم)

Dari Anas, dari Nabi bersabda, "Tiga perkara jika terdapat pada diri seseorang, niscaya akan dia rasakan manisnya iman. (Pertama) orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya paling dia cintai dari selain keduanya." (HR. Bukhari-Muslim dengan redaksi Muslim).

Manisnya iman, menurut para ulama adalah merasakan lezatnya ketaatan dan memiliki daya tahan menghadapi rintangan dalam menggapai ridha Allah dan Rasul-Nya, serta lebih mengutamakan ridha-Nya daripada kesenangan dunia. Ibnu Rajab berkata dalam kitab Fathul Bari 1/51, "Apabila hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Karena itulah Nabi Yusuf berkata, "Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku... (QS. Yusuf: 33).

Para jamaah rahimakumullah,

Di antara bentuk riil kecintaan kita kepada Allah dan Rasul Nya adalah dengan mengikuti apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah melalui sunnah-sunnahnya. Sa'id bin Jubair berkata, "Sebuah perkataan tidak akan diterima kecuali dibuktikan dengan perbuatan. Ucapan dan perbuatan tidak akan diterima kecuali dengan niat. Sedang niat tidak akan diterima kecuali sesuai dengan sunnah Rasulullah (I'tiqåd Ahlus Sunnah: 1/57). Ittibá ur Rasul atau mengikuti sunnah Rasulullah menjadi penentu diterimanya sebuah ibadah. Karena semua ibadah sifatnya adalah tauqifi, artinya berdasarkan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Bukan berdasarkan akal atau perbuatan kebanyakan orang. Bukan pula dengan mengikuti semangat yang menggebu semata atau karena kagum dengan figur tokoh tertentu. Rasulullah bersabda, "Dan barang siapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak." (HR. Muslim).

Amal tersebut tertolak karena dianggap bidah. Bidah dalam terminologi syara' adalah setiap ibadah yang diada adakan oleh manusia tapi tidak ada asal usulnya, baik dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Bisa dengan mengurangi atau menambah dari apa yang telah menjadi ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Imam Sufyan ats-Tsauri berkata, "Perbuatan bidah itu lebih disukai iblis daripada perbuatan maksiat, karena orang yang melakukan maksiat bisa jadi bertobat dari kemaksiatannya, sementara orang yang melakukan bid'ah tidak akan bertobat dari kebid'ahannya." (Syarh Ushulil I'tiqåd, al-Lâlika'iy, 1/132, Syarh as-Sunnah, 1/216). Kenapa demikian? Karena pelakunya merasa tidak bersalah, maka otomatis ia merasa tidak perlu untuk bertobat darinya. Bagaimana merasa bersalah, lah dia merasa punya dalil. Walaupun dalilnya lemah, bahkan tidak bisa dijadikan hujjah. Oleh karena itu, semua jenis bid'ah dalam ibadah adalah merupakan kesesatan, meskipun menurut pandangan kebanyakan orang adalah baik. Dalam hal ini, Abdullah bin Umar berkata, "Setiap bidah itu adalah sesat, sekalipun orang-orang memandangnya tampak baik." (al-Madkhal ilȧ as-Sunan al Kubra, Imam al-Baihaqi, 1/180).

Dengan demikian, kalau diri kita mengklaim mencintai Allah dan Rasul-nya, tidak ada cara lain kecuali tunduk, pasrah, dan menjadikan petunjuknya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ibadah kita tidak sia-sia, gara-gara menyelisihi apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada umatnya.
 
 
3. Ceramah Ke 3
Jangan Berputus Asa
 
۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ 
 
Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.
 
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, Ayat tadi terdapat dalam Al-Qur'an juz ke-24, tepatnya pada surat az-Zumar, ayat ke-53. Ayat ini menjelaskan keluasan rahmat Allah yang begitu agung kepada seluruh umat manusia, baik mukmin maupun kafir. Pintu rahmat berupa ampunan Allah akan selalu terbuka untuk siapapun yang menghampirinya. Maka Dia firmankan, "Wahai hamba-hamba-Ku, sebuah panggilan yang penuh kasih sayang, walaupun hamba itu telah berlumuran dosa dan kedurhakaan. Selagi orang mau bertobat dari kesalahan dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dari Abu Dzar, dari Rasulullah Allah berkalam, "Hai hamba-hambaku, sesungguhnya kalian bersalah (berbuat dosa) di malam hari dan siang hari, dan Aku mengampuni semua dosa, maka mintalah ampun kalian kepada Ku, niscaya Aku ampuni kalian." (HR. Muslim).

Allah tidak akan menutup pintu taubatnya kecuali dalam dua kondisi. Pertama, ketika roh sudah sampai di kerongkongan atau dalam kondisi sakaratul maut, sebagaimana Allah jelaskan dalam surat an-Nisa', ayat 18, dan sabda Rasulullah "Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorang hamba selama rohnya belum sampai tenggorokan." (Mustadrak al Hakim, 4/286). Al-Hasan al-Bashri mengatakan, "Sesungguhnya tobat akan selalu ditawarkan pada semua manusia, selama ajal belum menjemputnya." (Lathâ'iful Ma'arif: 461). Kedua, ketika matahari terbit dari barat, alias Kiamat telah datang. (HR. an Nasa'i).

Jamaah yang dirahmati Allah,

Al-Qur'an dalam banyak ayatnya telah menyebutkan kepada kita taubat para nabi atas perbuatan mereka. Mereka bertobat bukan karena alasan dosa yang telah dilakukan, karena nabi adalah maksum, terjaga dari perbuatan dosa. Tetapi mereka bertobat karena merasa telah melakukan sesuatu yang tidak pantas dilakukan oleh seorang nabi. Mereka segera menyesal, bertobat dan beristighfar dari kesalahan itu, dengan berharap agar Allah mengampuni dan menerima tobat mereka. Kalau mereka para nabi - saja bertobat, lalu apa alasan kita untuk tidak segera bertobat? Bukankah manusia biasa sering tidak tahan menghadapi cobaan, sering lupa terhadap kewajiban dan perintah Allah, serta sangat mudah tergiur dengan tipu muslihat hawa nafsu dan dunia? Inilah kenyataan manusia yang tidak dapat dipungkiri. 
 
Oleh karena itu, Rasulullah menyabdakan, "Setiap anak Adam pernah berbuat dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertobat (dari kesalahan tersebut)." (HR. al-Hâkim). Tobat yang akan diterima Allah adalah taubat nasuha. Yaitu bertobat memohon ampun kepada Allah atas dosa yang pernah diperbuat, menyesali dosa-dosa yang telah dilakukan, dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi di masa mendatang. Apabila dosa atau kesalahan tersebut berkaitan dengan hak hak manusia, maka selain tiga hal tersebut, juga harus meminta halal dan maaf kepada sesama. Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat, "Apakah penyesalan itu taubat?" "Ya". sabda Rasulullah (HR. Ibnu Majah). 'Amr bin 'Alá' pernah mengatakan, "Tobat nasuha adalah bila kamu membenci perbuatan dosa sebagaimana kamu pernah mencintainya."
 
Sa'id bin Jubair, sebagai orang yang terkenal bagus ibadahnya, ketika ditanya. "Siapa manusia yang paling bagus ibadahnya?" Said bin Jubair menjawab, "Orang yang merasa terluka karena dosa dan jika ia ingat dosanya maka ia memandang kecil amal perbuatannya." Semoga kita termasuk orang yang mau bertobat kepada Allah dan diterima tobatnya. Amin.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، وهدانا وإياكم إلى صراط مستقيم وتقنيي و إنا كم بالآيات والذكر الحكيم
 
Jangan Menunda Taubat
 
۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ  اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ . 
 
Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (Ali Imran:133).
 
Kaum muslimin wal muslimat yang dimuliakan Allah,

Ayat yang baru kita baca tadi, terdapat dalam Al-Qur'an juz ke-4, tepatnya pada surat Ali Imran, ayat ke-133. Ayat tersebut menyerukan kepada kita untuk segera menggapai ampunan Allah, dengan segera bertobat memohon ampun kepada Allah. Karena penundaan tobat sangat membahayakan jiwa seseorang. Bisa saja ia meninggal dengan tiba-tiba sebelum ia sempat untuk bertobat, memohon ampun kepada Allah.

Oleh karena itu, kita perhatikan dalam ayat tersebut, Allah menggunakan kata (وَسَارِعُوْٓا) yang artinya bersegera, kemudian kata (مَغْفِرَةٍ) menggunakan redaksi kata nakirah atau kata yang masih bersifat umum, belum jelas. Ini memberikan isyarat bagi kita bahwa kita semua diperintahkan untuk bercepat-cepat menggapai maghfirah atau ampunan yang mana belum tentu kita dapatkan, karena bisa saja kita lebih dahulu dipanggil Allah sebelum sempat bertobat dan mendapatkan ampunan dari Allah.

Dalam ayat lain, Allah menjelaskan bahwa tobat seseorang akan diterima, jika seseorang bersegera bertaubat, tidak menunda nundanya. Karena penundaan tobat merupakan indikasi ketidakseriusan seseorang dalam bertobat. Sebagaimana Allah firmankan dalam surat an-Nisa', ayat 17, "Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya.
 
Menurut Ibn Abbas, maksud dari kata يَتُوْبُوْنَ مِنْ قَرِيْبٍ (yang kemudian mereka bertobat dengan segera), adalah sebelum seseorang dalam keadaan sakit atau hampir meninggal. Orang yang bertobat dalam posisi lemah terkulai sakit, seperti orang yang bersedekah dengan hartanya karena ia hampir meninggal. la sedekah karena kondisi yang terpaksa. Tentu tobat orang seperti ini sangat beda dengan tobat orang yang masih sehat bugar dan mampu mengerjakan apapun yang ia kehendaki.
 
Jamaah yang berbahagia,

Kondisi yang paling berbahaya bagi orang yang melakukan maksiat atau berbuat dosa adalah pikiran untuk menunda nunda tobat. Artinya, ia selalu berkata, "Nanti aku akan kembali menjadi orang yang benar, nanti kalau tua aku akan bertobat." Pikiran semacam itu adalah bisikan dari Iblis! Orang yang suka menunda-nunda tobat, bagaikan orang yang ingin mencabut sebuah pohon. la melihat pohon itu kuat, kemudian ia berkata, "Aku tunggu hingga tahun depan, baru aku datang kembali untuk mencabutnya." Ini adalah logika orang bodoh dan tolol. Karena ia sadar, bahwa pohon itu dari hari ke hari akan semakin kokoh dan besar, sementara dirinya semakin tua dan lemah!


Selain itu, perlu kita ketahui bahwa ada sebagian orang meremehkan dosa-dosa kecil. Mereka berdalih bahwa dosa dosa kecil itu bisa hilang sendirinya dengan baca istigfar atau melakukan kebaikan. Pikiran semacam ini adalah bisikan setan. Karena orang yang suka meremehkan dosa-dosa kecil, bukannya mendapatkan ampunan, melainkan dosa kecil itu menjadi sebuah dosa besar. Firman Allah,


...وتحسبونه هينا وهو عندالله عظيم

...dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar." (an-Nûr: 15).

Rasulullah bersabda, "Berhati-hatilah kalian terhadap dosa kecil, sebab jika ia berkumpul dalam diri seseorang, akan dapat membinasakannya." (HR. Ahmad dan ath-Thabarâni). Ibnu Abbas mengatakan, "Tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus, dan tidak ada dosa besar jika diiringi dengan istighfar." Artinya mau bertobat dan memohon ampun kepada Allah. Semoga kita diberi kemampuan Allah, sehingga terhindar dari perbuatan dosa dan segera bertobat ketika jatuh dalam perbuatan dosa. Amin.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، وهدانا وإياكم إلى صراط مستقيم، ونفعني وإياكم بالآيات والذكر الحكيم

Demikianlah 4 Contoh ceramah yang cocok untuk perlombaan Hari Santri Nasional.

Editor: Tim Editor Muda Bahagia 01

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kontributor TVRI Jateng Ternyata Intel

Kamis, 15 Desember 2022 | 20:33 WIB

Tak Lolos Verifikasi, Partai Umat Merasa Dicurangi

Kamis, 15 Desember 2022 | 10:49 WIB

Sah, Parpol Sudah Memiliki Nomor Urut Untuk 2024

Rabu, 14 Desember 2022 | 23:48 WIB
X